Mempelajari Metode Penelitian Komunikasi
Bagian B
Hai teman-teman....jumpa kembali, nah kali ini aku akan membahas tentang metode penelitian komunikasi bagian B. Ini merupakan kelanjutan tulisan dari diblog kemarin. kali ini kita membahas kontruksi realitas sosial, fenomenologi, dan dramaturgi.
1. Kontruksi realitas sosial
Definisi dari Kontruksi realitas sosial adalah proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realita yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.
Beberapa
asumsi dasar dari teori kontruksi sosial menurut Berger dan Luckmann sebagai
berikut :
*
realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan kontruksi
sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya.
*
hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu
timbul, bersifat berkembang dan dilembagakan.
* kehidupan
masyarakat itu di kontruksikan secara terus menerus.
*
membedakan antara realitas dengan pengetahuan.
Penelitian
Fenomenologi dapat dideskripsikan sebagai penerapan metode kualitatif dalam
rangka menggali dan mengungkap kesamaan makma dari sebuah konsep atau fenomena
yang menjadi pengalaman hidup sekelompok individu.
Sebagai
metode penelitian, fenomenologi adalah cara membangun pemahaman tentang
realitas. Pemahaman tersebut di bangun dari sudut pandang para aktor sosial
yang mengalami peristiwa dalam kehidupannya. Pemahaman yang dicapai dalam
tataran personal merupakan kontruksi personal realitas atau kontruksi
subjektivitas.
Fenomena
yang dialami oleh sekelompok individu tentunya begitu beragam. Ambil contoh
fenomena HIV atau AIDS.Penelitian kita fokuskan pada fenomena berupa perlakuan
diskriminatif yang menjadi pengalaman hidup para penderita HIV. Fokus
penelitian demikian bisa dilakukan dengan mengaplikasikan metode
fenomenologi.
Riset
fenomenologis selalu berusaha untuk mereduksi pengalaman-pengalaman personal ke
dalam kesamaan
pemaknaan
atau esensi universal (essentializing) dari suatu fenomena yang dialami secara
sadar oleh
sekelompok
individu. Perlu dicatat sekali lagi bahwa pengalaman tersebut merupakan
pengalaman individual.
Peneliti
mengumpulkan cerita dari sekelompok individu untuk dicari kesamaan maknanya.
3. Dramaturgi
Dramaturgi
adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi/persetujuan drama. Kata drama
berasal dari bahasa Yunani, yaitu dramoai, yang berarti berbuat, berlaku,
bertindak dan sebagainya dan drama berarti perbuatan atau tindakan. Ada orang
yang menganggap drama sebagai lakon yang menyedihkan, mengerikan, sehingga
dapat diartikan sebagai sandiwara tragedi.
Dramaturgi adalah sebuah metodologi. Metodologi adalah tentang ilmu tentang metode. Mengapa itu yang dipilih? maka, mengapanya inilah yang digunakan untuk memilih. Berarti dramaturgi adalah sebagai metodologi, karena digunakan untuk melihat sebuah realitas, sehingga fenomena tersebut bisa dijelaskan. Adanya asumsi tertentu, apakah penentuan metodologi yang digunakan.Teori dramaturgi merupakan dampak atas fenomena, atau sebuah reaksi terhadap meningkatnya konflik sosial dan konflik rasial, dampak represif birokrasi dan industrialisasi.
Dramaturgi
menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna
kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam
interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia
bersifat ekspresif inilah, maka perilaku manusia bersifat dramatik.
Dramaturgi
digunakan untuk melihat realitas, sebagai sebuah drama, adanya asumsi tertentu.
Semua realitas dilihat sebagai metaformofosis tertentu. Realitas itu dilihat
sebagai drama. Peneliti melihat dan menelaah bagaimana interaksi sosial itu
sebagai hasil dari bermainnya peran. Bermain karakter. Tujuannya adalah
menyelidiki apa yang terjadi, peran apa saja dan bagaimana peran tersebut dalam
interaksi antar aktor yang terlibat dalam realitas.
Komentar
Posting Komentar